Inilah 8 Pernyataan Terkenal dari Lee Kuan Yew



Lee Kuan Yew tak terbantahkan sebagai sosok yang berpengaruh. Ia memimpin Singapura selagi 31 tahun. Sosok Lee, yang meninggal dalam usia 91 tahun pada Senin (23/3/2015) dini hari itu, juga tak terlepas dari persengketaan terkait gaya kepemimpinannya yang otoriter, serta populer dengan sejumlah ucapannya.

Berikut merupakan 8 pernyataan Lee yang paling berkesan menurut opsi Kompas.com.

1) "Dicintai alias ditakuti, saya rutin percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Machiavelli merupakan benar. Apabila tak ada yang menakuti saya sebagai pemimpin, jadi saya tak ada artinya." 

2) "Saya tak sempat memperhatikan alias terlalu memedulikan hasil survei alias popularitas saya. Menurut saya, pemimpin yang terlalu peduli bakal survei merupakan pemimpin yang lemah. Apabila pemimpin terlalu cemas dengan popularitasnya yang naik turun, jadi pemimpin itu bukanlah seorang leader. Mereka hanya mengejar angin... mengikuti ke mana angin berembus, serta saya tak memerintah untuk itu."

3) "Saya wajib memenjarakan lawan, tanpa pengadilan, baik komunis, sauvinis, alias ekstremis agama. Apabila saya tak melakukannya, negara ini bakal hancur." 

4) "Saya rutin dituduh mencampuri kehidupan pribadi warga Singapura. Benar. Apabila saya tak melakukan itu, Singapura tak bakal maju semacam ini hari ini. Saya tanpa penyesalan sedikit pun berbicara tak bakal ada kemajuan ekonomi apabila saya tak mencampuri urusan pribadi Anda, siapa tetangga Anda, di mana Kamu tinggal, keluhan Anda, bagaimana Kamu meludah, serta bahasa apa yang dipergunakan. Kami memutuskan apa yang baik serta benar, tak peduli apa yang dipikirkan warga." 

5) "Masalah yang tak jarang timbul merupakan manusia belum sanggup mengerti apa yang dimaksud dengan karakter. Kamu bisa mengukur IQ alias kepintaran setiap orang dengan segala macam tes.... Sungguhlah mencengangkan, di dunia ini, tak sedikit sekali orang ber-IQ tinggi yang tak berbuat apa-apa untuk membantu sesama. Karakter merupakan suatu  nilai yang tak bisa diukur. Karakter yang baik ditambah mental yang kuat, kepintaran, serta kedisiplinan-lah yang melahirkan kepemimpinan yang baik.” 

6) "Apa yang penting di dalam nasib saya? Keluarga serta negara saya. Istri saya menjaga keluarga saya. Dirinya membesarkan anak-anak. Saya rutin menghabiskan waktu dengan mereka untuk mengajarkan sejumlah nilai. Bakal tetapi, Singapura tetaplah orioritas saya sampai ajal menjemput." 

7) "Saya mempunyai tak sedikit memori yang indah bersama dengan beliau selagi 63 tahun. Tanpa dia, saya merupakan lelaki yang tak sama dengan kehidupan yang berbeda. Beliau rutin mendedikasikan dirinya untuk saya serta anak-anak. Dirinya rutin ada ketika saya memperlukan kehadirannya. …Pada peristiwa terbaru ini, perasaan saya sangat berduka." (Eulogi Lee terhadap istrinya, Kwa Geok Choo) 

8. "Ini peribahasa Tionghoa, 'Jangan menghakimi alias mengukur manusia sampai Kamu menutup peti matinya'. Tutup peti mati, serta kemudian analisis. Saya tak berbicara semua yang saya perbuat merupakan benar, namun saya ingin berbicara bahwa semua yang saya perbuat merupakan untuk tujuan yang mulia. Terkadang saya wajib melakukan sesuatu yang kejam, semacam memenjarakan orang tanpa pengadilan."(kompas)